HOME / OPINI / Kehidupan Desa yang Asri
Petani di Desa. (dok.suaradesa)
Petani di Desa. (dok.suaradesa)

Kehidupan Desa yang Asri

SUARADESA, JAKARTA – Desa Tanjungsari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, terletak di wilayah perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Maka tak heran jika para penduduk di sini menggunakan bahasa jawa dan sunda dalam percakapan sehari-hari.

Mata pencaharian masyarakat di sini bisa dibilang bermacam-macam. Meski sebagian besar memilih untuk bekerja di kota-kota besar terutama generasi mudanya. Yang memilih untuk tetap menekuni pekerjaan di kampung melakukan apa saja asal dapur tetap bisa mengepul.

Namun ketika musim panen tiba, pekerjaan yang biasa dilakukan bisa mereka tanggalkan agar bisa ikut menjadi buruh tani (panen) karena bagi mereka ketika panen tiba tidak hanya menjadi berkah bagi si pemilik sawah namun juga bagi para buruh tani ini.

Maka setiap pagi di pinggiran sawah sudah ramai orang yang menunggu si empunya sawah atau orang yang menjadi kepercayaannya masuk ke sawah dan menjadi tanda bahwa mereka sudah boleh memangkasi batang-batang padi yang sudah merunduk itu.

Bahkan ada yang mulai memotong padi saat matahari belum muncul dan selesai bekerja hingga hampir tengah malam tiba dengan menggunakan lampu penerang patromak. Dari setiap 8 kilo gabah yang didapat, mereka mendapatkan 1 kilo dari pemilik sawah.

Di sini dan mungkin di desa-desa penghasil padi lainnya di Indonesia, padi menjadi barang yang bisa dibilang sangat “liquid”, karena saat mereka membutuhkan uang, padi bisa dijual dengan cepat.

Desa ini termasuk desa tertinggal, dari segi infrastruktur jalan desa saja sepanjang saya bisa mengingat baru dua kali mendapat perbaikan aspal.

Desa ini dibentengi oleh pegunungan, maka saya gambarkan saja jika wilayah desa ini memiliki wilayah hulu-hilir. Beruntung bagi saya yang tinggal di hilir tidak terlalu kesulitan menempuh jalan bebatuan jika hendak menuju kota kecamatan.

Namun bagi masyarakat yang tinggal di “gunung” (hulu)—maka bayangkan bagaimana jalan yang terjal penuh bebatuan cadas harus mereka lalui.

Sebab itu tidak heran rata-rata masyarakat “gunung” hanya sebulan sekali saja mengunjungi kota kecamatan untuk berbelanja kebutuhannya.

Saking begitu sulitnya akses, ada semacam sindiran, katanya bagi para pengemudi yang biasa mengendarai kendaran di kota jangan coba-coba menempuh jalan ke sana, walapun mereka begitu mahir berkendara di jalanan kota, belum tentu bisa menaklukan jalan ke sana. (detik)

 

Baca juga

Buah pisang. (Foto: nuwamajournalist.wordpress.com)

Alasan Pisang yang Mulus Tiba Tiba muncul bintik Hitam

SUARADESA, LAMPUNG –  Munculnya bintik-bintik hitam di kulit pisang sering kita temui, tetapi bukan berarti …