HOME / BUDAYA / Perang Ketupat, Tradisi Wujud Terima Kasih Masyarakat
Perang ketupat. (Foto: Bali Media)
Perang ketupat. (Foto: Bali Media)

Perang Ketupat, Tradisi Wujud Terima Kasih Masyarakat

SUARADESA, BALI – Ketupat umumnya menjadi makanan pokok saat hari raya besar keagamaan. Namun, di Bali, ketupat dijadikan senjata perang yang merupakan tradisi unik di Kabupaten Badung.

Tradisi tersebut menjadi salah satu wujud syukur dari masyarakat di Desa Kapal. Ujud syukur untuk apa? Memang unik alasannya.

Perang ketupat menjadi cara mereka berterima kasih pada Sang Hyang Widhi sebutan Tuhan Yang Maha Esa bagi umat Hindu atas hasil panen dan terhindar dari kekeringan. Juga memohon keselamatan dan kesejahteraan umat manusia.

Bukan hanya itu, perang ketupat yang merupakan tradisi umat Hindu di Bali, ternyata adalah warisan leluhur turun-temurun, dari generasi ke generasi.

Perang ketupat pertama kali diadakan pada abad ke-13 dan dirayakan setahun sekali. Pelaksanaannya diawali dengan upacara atau sembahyang oleh warga desa di pura setempat.

Usai upacara sambil membaca mantra, pemangku adat memercikan air suci ke seluruh warga atau peserta perang ketupat. Mereka memohon pada Hyang Widhi agar upacara perang tersebut sukses dan memberi kesejahteraan, keselamatan.

Setelah semua siap, jalanan di depan pura ditutup selama 30 menit. Semua kendaraaan dilarang melintas dan perang dimulai, setelah ada aba-aba.

Aksi saling melempar ketupat menjadi sangat menarik bahkan menjadi daya tarik wisatawan. Usai perang, seluruh warga desa saling berjabat tangan, berpelukan, bersukacita, dan tak ada dendam di antara mereka. (otonomi)

Baca juga

Desa Sade Sasak. (Foto: Wisata Lombok)

Lestarikan Tradisi dengan Kekuatan Cinta

SUARADESA, LOMBOK – Dengan kekuatan cinta, mereka menjaga tradisi agar tetap dapat dinikmati wisatawan. Upaya melestarikan …